Wednesday, 20 July 2011

Tuhan, saya cuma minta orang yang bisa saya datengin cuma buat ngeliatin saya nangis. Ngeliat aja. Tanpa ngejudge, tanpa nanya, tanpa nawarin bantuan, tanpa meluk, tanpa ngelap airmata, apalagi nangis bareng, lebih lagi ikut kepikiran. Orang yang gaakan nyuruh saya berenti sambil bilang 'Udah, gaada gunanya lo nangis'. Karena dia tau, bahwa mungkin trigger saya nangis terkesan sepele, tapi kalo yg sepele itu bisa bikin saya segitunya, maka semuanya pasti ga sesepele itu, dia cuma gatau apa. Dan ga nyari tau

Saya cuma butuh orang yg ngeliatin saya ketika saya nangis.
Supaya saya bisa liat satu benda tegar yg ga ikut keterpa badai. Dan saya bisa sadar bahwa bumi tetep muter.

Orang yang stay.
Orang yang tau bahwa bagi saya tanpa dia nunjukin, saya tau dia peduli. All they have to do is... Be there. In a specified distance. A distance they know instinctively

Saturday, 16 July 2011

Dikit dikit huha dikit dikit huhu

Mamaaah, mau wisuda (‾̣̣̣﹏‾̣̣̣'') aduduuuh galau adududuuuh ayo ning ayo ning ulang terus mantranya; Percayalah, lelah ini hanya sementara. HUAAAAA HUAAAAA galau mah galau.
Semoga bisa wisuda tepat waktu, atau seperti kata seseorang, indah pada waktunya huhuhuhuhujaaanderasdimatakuuu dramatis. Udah udah abaikan, plis jgn ilfeel, jangan lariii pembacakuuuu, percayalah, puber ketiga ini hanya sementara huhuhuhu

Sunday, 3 July 2011

Ketika lo sampe berenti nyetir untuk ngepost sesuatu, you know that bothers me so much eh?

Ada anak SMA ketolak SR, baca dari @ITweetB. Dia nulis panjang perkara ketidakadilan. Now, I respect you dek,
But let's talk injustice.

Impian saya masuk sipil itu dari lulus SD. Saya melihat meja tempat bapak ibu saya menaruh pekerjaan mereka, dan saya berkata, 'Saya mau sibuk itu'.

Saya ingin ITB juga sudah sejak SD, sampai mungkin terlihat seperti obsesi. Yang tidak banyak orang tahu adalah, saya lebih ingin Teknik Sipil daripada ITB. SMP saya, SMA saya, saya pilih agar bisa berentet mengantarkan saya ke Teknik Sipil, ITB.

Saya sampai ikut bimbel. Temui saya ketika SMP, atau kelas X, kelas XI, Anda akan menemukan saya yang sangat melecehkan bimbel. Kelas XII, saya sebegitu menginginkan Teknik Sipil ITBnya, sampai saya menjilat keangkuhan saya sendiri.

Ternyata, saya berhasil masuk FTSL.

Saya yg sudah ditolak masuk SMA 8, dan merasa bahwa ini adalah pertanda saya tidak bisa masuk ITB, karena kenaifan saya dalam membaca statistik, ternyata berhasil masuk ITB.
Salahkah saya jika mengira bahwa rencana saya kali ini sejalan dengan rencana Tuhan?

Ternyata salah. Saya terlalu naif.
Saya ditolak sipil. Yap, impian saya hancur.

Mana part 'ga adil' nya? Itu kan wajar, tidak semua mimpi dikabulkan.

Here goes the injustice.

Sistem di ITB angkatan saya adalah Anda harus menjalani TPB dulu, baru hasil dari TPB tersebut menentukan ke jurusan mana Anda diterima.

TPB mempelajari semuanya. Idenya adalah penyamarataan standar ilmu lulusan ITB. Anda bisa menjadi apa saja dalam dunia perteknikan, tidak hanya terpatok oleh jurusan Anda.

Jadilah selama TPB saya mempelajari Fisika Dasar, Kalkulus, Kimia Dasar, Teknik Presentasi, Tata Tulis Karya Ilmiah, dkk.

Dimana tidak adilnya? Tidak adil adalah, diterima/tidaknya saya di Sipil, ditentukan oleh nilai Kimia saya yg toh tidak akan saya dapat di Sipil kelak.

Menurut hemat saya, yang perlu dilakukan bukanlah penyamaan standar satu ITB. Untuk apa anak Elektro atau Mesin, Planologi atau Aeronautika dapat Kimia? Itu terlalu muluk! ITB berpikir, alangkah baiknya jika Sarjana Teknik Sipil ITB juga mengerti bidang Teknik Kimia, agar kita terbiasa think out of the box.
Sekarang yang jadi pertanyaannya, jika keanekaragaman ini yang jadi syarat penerimaan di jurusan yang sebenarnya sangat spesifik, apakah standar spesifikasinya terjamin?

Jika bahasa saya terlalu berbelit, ijinkan saya menyingkatnya dengan agak (maaf) lugas.
Orang-orang yg masuk Sipil karena keangkat nilai Kimia nya yg 3 SKS dapet A itu, yakin ga logika Rekayasa Struktur nya dapet? Sama sekali gaada maksut pointing fingers apalagi ngeremehin temen-temen seperjuangan gue sendiri yg dapet, tp with all due respect, ITB tuh mau dapet lulusan yang kayak gimana?

Ibarat kata, lo mau apply kerja jadi dokter, yg jadi syarat lumayan pentingnya adalah keahlian Geografi. Kan ga nyambung.

Bolak balik Ibu saya mengeluhkan lulusan ITB yang merasa mengerti segalanya, siap mengikuti perkembangan dunia, merasa mampu beradaptasi dengan medan pekerjaan apapun. Tetapi, buka ETABS saja, boro-boro tau cara ngetes seberapa 'muntir' struktur tersebut akibat gaya dari luar, cara nge-plot saja tidak tahu.

Mau sampai kapan lulusan ITB dikenal sebagai lulusan yang diterima karena numpang nama dan sontak langsung minta gaji besar, tanpa hasil kerja yang setimpal?

Saya setuju jika standar satu fakultas disamakan, karena "harusnya" fakultas-fakultas itu digolongkan berdasarkan kemiripan materi, hanya aplikasinya saja yang berbeda tapi tetap saling menyokong. Hal ini berlanjut kepada pertanyaan saya selanjutnya, mengapa Teknik Lingkungan dianggap segolongan dengan Teknik Kelautan sehingga digabung dalam satu fakultas?

Kata Infrastruktur tidak cukup mengikat ketiganya! Infrastruktur macam apa sih yang direkayasa oleh para lulusan Teknik Lingkungan? Yang ramah lingkungan? Yang memanfaatkan alam tetapi juga menguntungkan alam sekaligus? Yang menyokong kinerja lingkungan?

Kalo di PRI bolak balik dibilang engineer harus take an oath bahwa semua pekerjaannya tidak boleh merugikan lingkungan, ya apa spesialnya dong terus si TL ini?

Dan realistis ga sih, infrastruktur eco friendly? Oke gue tau udah ada, but let's just be realistic, berapa banyak sih pengusaha yg nengok? Dimana-mana, yang ideal itu, daerah industri dengan segala sarana maupun prasarana ngumpul disatu tempat, lingkungan di tempat laen. Ga terjamah.

Jadi apasih infrastruktur produk teknik lingkungan itu? Jalan raya berhumus yang dapat meresap air kah? Call me naïve atau bahkan sotoy, tapi kok saya merasa bidang ini agak hipokrit ya.

Kembali ke penyamarataan standar. Jika tidak mau dilakukan per fakultas, ya pastikanlah bahwa yang akan diajarkan memang diperlukan dan akan diajarkan lebih lanjut di jurusan kelak. Sebagai contoh, saya setuju jika semua matrikulan diberikan materi kalkulus, teknik presentasi atau membaca atau menulis, tata tulis karya ilmiah, karena ya memang kedepannya itu penting bagi kami.

Tetapi jika SF dan SITH dapat Fisika dan kami dapat Kimia, itu sudah terlalu jauh.

Anda mengerti bahwa kebutuhan Kalkulus FTSL, SAPPK, dan SF berbeda. Itu sebabnya Anda memberikan Kalkulus A, B, dan C. Sesulit itukah bagi Anda untuk mengerti bahwa kami tidak butuh Kimia? Jika Anda ingin menyamaratakan standar, jangan berikan kami Kimia, perlakukan kami sama rata! Beri kami semua se ITB mutu kalkulus yang sama! Kan konyol, anak Sipil dituntut punya ilmu kimia yg sama dg anak Hayati, tapi kalo ngomongin Kalkulus ga nyambung. Padahal katanya kita Institut Teknologi, masak kemampuan Kalkulusnya beda-beda?

Dan tahun ini ITB menerima murni dari SNMPTN. Bahkan dari undangan, rapot. Gaada TPA/TBS, gaada psikotes, haduh. Ga ngerti lagi.

Ada yang kurang dari gelar lulusan ITB. Harusnya ga cuma Sarjana Teknik, tapi Sarjana TEORI Teknik.

Bapak Ibu yang dapat menentukan masa depan ITB, tolonglah. Kembalikan mutu lulusan Anda. Dunia tidak membutuhkan Sarjana Teknik Sipil yang bisa nyambi jadi Sarjana Teknik Industri atau sebaliknya, dunia butuh Sarjana Teknik Sipil yang menguasai bidangnya tanpa setengah-setengah, yang dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan Sarjana Teknik Industri yang menguasai bidangnya tanpa setengah-setengah.

Tidak usah muluk-muluk lah Pak, Bu. Kami tidak butuh dua kualitas dalam satu badan. Otaknya akan lebih cepat penuh daripada dua badan dengan kualitas masing masing yang berjalan bergandengan.

Saturday, 2 July 2011

Ha-Lo

On the night like this, that're so many things I.....done.
Kalo dilanjutin tar dibilang galau -_- gue tau kok apasih bgt.

Kira kira ada 1000x gue buka blogger, siap2 posting, dan... keluar begitu saja. Padahal banyaaaak bgt yg pengen gue tulis. Dari yg depressing kyk salah jurusan, sampe yang penting kayak betapa gue muak sama issue issue penting caelaaah padahal plg gue doag yg nganggep penting, yang galau galau abg gicudee :3 :3, sampe yg nyampah, like this one time gue liat anak kecil di pedaleman yang make kaos 'Keep Calm and Carry On'. Plis dek, tau dari manaaa (۳˚Д˚)۳ ga penting ya kan udah gue bilang, sapa suruh baca blog gue (σ¬˛¬͡)σ

One day gue akan post galau keterlaluan tentang TL, sampe kalian yg baca mewek deh, janji. Jiaelah sok asik lu ning kayak indra bekti. Tp skrg, 1-1nya yg kepikiran di gue adalah nanti ketika perkenalan anak baru sm IAS, pasti kan gilirannya folklore. Ntar udah keren-keren dg suara ngebas dan sok wibawa ngmg 'Perkenalkan saya Setyaning Prastiti panggilan Asti', sambil eyyaa sibak rambut dikit, yg plis bgt jangan sampe harus dipangkas. Eeeh lanjutannya '...Dari Teknik Lingkungan 2010' EAAAA ga macho abis. Lebih kasian lagi anak GD yg udah mau bertandang buat ngecengin TL Babes, eh yg lg siskamling di himpunan gue (¬͡͡˛ ¬͡͡) ga kebayang betapa nestapanya.

Keuntungan jadi TL Babes adalah, gue tidak (merasa) wajib ikut PROKM. Apa itu? Males jelasin -_- kalo mau tau, tanya caploks terdekat, itu tugas mereka.
Ngakak adalah, suatu malam menerima BBM dan mention dari seorang pria, ehm, irit pelanggan setia mandiri yang ngelaundry di 5asec. Intinya dia marah marah sendiri, tadinya sih ga gue gubris, gue kira dia lg sok marshanda, tp ternyata dia murka karena gue, sekali lagi gue, yg bener2 gapernah ikut diklat apalagi tes materi, disebut pertama sebagai anggota Opclose huahahaha yeah I'm awesome. Opclose itu bergengsi lowch, untuk nonlap itu yg paling awesome. Aduh gimana yah, ini sih yg namanya karisma.
Kenapa gue (pernah) milih nonlap? Karena 1) gue bengek, dan 2) konon diklat keamanan itu capek parah.

Setelah beberapa hari belakangan ini sibuk ngamatin twit anak2 keamanan yg sedemikian banyaknya gue sampe curiga salah satu latian mereka adalah olah tuit, gue menyimpulkan satu fakta yang diakui benar walaupun pahit oleh semua orang, bahwa diklat keamanan itu sama plek dg..........latihan SSD.
Huahahahaha rasanya pengen banget ngetawain Amel si abas teu puguh. Mampus lu, sok2an SMA gamau SSD, rasain lu ya huahaha. Dan tau gitu, gue harusnya kuat -_- eh tapi gatau sih, diklatnya mayan malem, eksterior gue pasti kuat, tapi di dalem, yah paling paru gue protol.

Intinya, anak bawah yg ingin jadi divisi keamanan PROKM selanjutnya, ikuti saran saya. Masuk drama di SMA Anda. Otomatis Anda akan awesome (‾‾•̩̩̩•̩̩̩‾‾)♉

Sekian dari saya, idih gila penting banget setengah empat pagi gue ngepost gini doang, punteun nyampah, salam, ES ES DE TUJU LAPAN *prok* BRAPOH!
UWOH!